MAROS, Sulsel– Sebuah langkah nyata pelestarian lingkungan ditunjukkan oleh seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Pak Hadado.
Di sela kesibukannya sebagai abdi negara, ia berhasil membangun ekosistem ekonomi kerakyatan melalui pengelolaan limbah plastik di Kabupaten Maros.
Melalui bendera Hadado Go Green yang berlokasi di Dusun Takalasi, Desa Temmapaduae, pria yang sudah 21 tahun bergelut di dunia rongsokan ini mampu menyerap 20 tenaga kerja lokal. Keberhasilan ini pun mendapat perhatian luas, termasuk dari organisasi kemasyarakatan di Sulawesi Selatan.
Menanggapi konsistensi Hadado, Kabid Humas KOTI Mahatidana Pemuda Pancasila (PP) MPW Sulawesi Selatan memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Hadado adalah bentuk dedikasi luar biasa yang menggabungkan pengabdian negara dengan kepedulian lingkungan.
“Kami sangat mengapresiasi dedikasi beliau. Sebagai seorang ASN di Dirjen Perhubungan Laut, ia masih sempat memikirkan kesejahteraan warga dan kebersihan lingkungan di Maros. Beliau sangat layak mendapatkan Kalpataru, penghargaan lingkungan tertinggi di Indonesia, atas dedikasinya dalam pelestarian lingkungan,” tegas Kabid Humas KOTI Mahatidana PP MPW Sulsel, Sabtu (02/05/2026).
Meski skala usahanya sudah menjangkau kerja sama dengan bank sampah besar di Makassar selama lima tahun terakhir, Hadado mengakui bahwa perjalanannya di Kabupaten Maros tidaklah mudah.
Hingga saat ini, belum ada sentuhan atau dukungan fasilitas dari pemerintah kabupaten setempat.Hadado mengungkapkan bahwa modal awal hingga pengembangan usaha ini merupakan hasil kemandirian finansial yang cukup berisiko.”Sampai sekarang kami belum pernah dilirik atau mendapat bantuan.
Modal yang ada merupakan hasil dari menggadaikan SK PNS saya,” ungkap Hadado jujur.Bagi Hadado, bisnis rongsokan bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan sebuah misi sosial. Ia memiliki visi agar seluruh karyawannya sejahtera dan anak-anak mereka dapat menempuh pendidikan setinggi mungkin.
Namun, potensi besar ini kini terganjal keterbatasan fasilitas dan armada. Hadado berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah agar usaha “Go Green” ini bisa berekspansi ke wilayah lain seperti Sidrap dan Parepare yang mulai melirik sistem pengolahannya.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk dorongan untuk mendapatkan penghargaan Kalpataru, diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan inovator lingkungan lokal yang bekerja dalam senyap demi masa depan bumi yang lebih bersih.